Wednesday, July 8, 2015

Kapan Harus Beranjak Darimu?

Mungkin beranjak darimu dan kisah bersamamu adalah tersulit yang harus aku hadapi saat ini. Semakin ingin aku beranjak dan meninggalkan semua tentang kisah dahulu maka semakin kuat juga kenangan- kenangan itu hadir kembali dalam benakku.

Terlalu banyak saran dan pesan dari sahabat yang perduli akan keadaanku bahwa aku memang harus segera beranjak dari kisah kita. Mungkin didepan mereka aku sanggup mengiyakan dan tersenyum bahwa aku memang harus beranjak dari kisah kita, namun pada kenyataanya sejengkalpun aku belum mampu beranjak dari semua kisah kita

Jika banyak pertanyaan yang menghujam mengapa aku belum sanggup beranjak, maka aku hanya bisa terdiam dan tertunduk. Karena aku sendiri juga tidak tahu mengapa aku tidak mampu beranjak dari kisah kita

Terkadang dalam kesendirian aku berpikir, salahkah aku jika aku tidak mampu dan tidak ingin beranjak dari kisah kita? Lalu salahkan aku jika aku memutuskan untuk tetap menunggu kau membuka hati dan melanjutkan kembali kisah kita?

Dan jika aku ditanya “lalu berapa lama aku akan menunggumu?” Maka aku tidak tau berapa lama aku akan tetap menunggumu. Bahkan mungkin aku tak mampu lagi untuk menghitung dan menyebutkan jumlah waktu untuk menunggumu.

Kadang aku juga berpikir untuk menunggumu sebentar lagi, tapi kadang juga aku tersadar bahwa keputusanku ini hanya akan memenjarakanku dalam sebuah ketakutan dan kepedihan yang mendalam.

Dosakah aku jika aku menyakiti diriku sendiri dengan keputusan yang telah aku ambil? Bahkan mungkin jika keputusanku ini hanya menyakiti diriku sendiri bukan orang lain? Atau bahkan kamu?

Ah...aku sudah tak mengerti lagi dengan apa yang sedang aku rasakan. Entah salah, entah benar, entah bodoh. Atau entah apalagi yang ada di benak orang-orang yang ada disekitarku.

Yang pasti lukaku ini biarlah menjadi tanggunganku, tak mampu beranjak darimu biarlah menjadi masalahku. Karena terlalu egois saat kita meminta orang lain untuk bertanggung jawab atas luka yang kita rasakan.

Jika rasa itu hanya dipermukaan mungkin tidak akan meninggalkan luka. Luka hanya ada karena terlalu dalam kita mencinta seseorang. Dan itu bukan menjadi salah orang yang di cintai, tapi salah karena aku terlalu mencintai.

Pada akhirnya aku hanya harus percaya sebuah pepatah lama bahwa mencintai itu memberi, bukan harus menggenggam. Dan itulah yang bisa aku lakukan padamu.

Berbahagialah dengan segala kehidupanmu yang sekarang, jangan lagi khawatirkan luka yang ada pada diriku. Semoga Allah memberikan keberkahan bagi kehidupanmu dan dia, dan diberi kelancaran rezeki, dan selalu bersama hingga maut yg memisahkan kalian.

Ya mendoakanmu adalah satu-satunya yang bisa aku lakukan. Berbahagialah dimanapun dan dengan siapapun kamu sekarang.

Terimakasih atas segalanya, dan maaf.

No comments:

Post a Comment